Fenomena Dramaturgi dalam Beradaptasi “MABA”


Heteregonitas. Sebuah kosakata yang cukup tepat dalam menggambarkan kehidupan perkuliahan di fakultas dengan warna makara jingga di kampus perjuangan ini. Heterogenitas domisili, heterogenitas budaya, heterogenitas suku, dan heterogenitas individu terutama, telah cukup untuk memberikan corak yang khas kepada fakultas yang sedang dalam pencarian pemimpinnya ini.

Tidak bisa dipungkiri euforia untuk mendapatkan kolega baru sebanyak-banyaknya lalu mendapatkan ruang di rumah baru telah menjadi sebuah tradisi setiap tahunnya oleh mahasiswa baru. Beradaptasi dengan heterogenitas yang begitu nyata dan mungkin baru saja mereka rasakan membuat para mahasiswa baru masih cukup sulit untuk menempatkan dirinya guna menyesuaikan apa yang telah ia dapat di kehidupan sekolah menengah dengan kehidupan di perguruan tinggi. Satu hal yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mereka bisa diterima di dalam kehidupan baru. Hal-hal yang mereka lakukan dapat berupa mengikuti kegiatan kepanitiaan, aktif dalam perlombaan, dan sebagainya.

Akan tetapi proses untuk mendapatkan ruang dalam pencarian jati diri baru tersebut, terkadang menjadikan mereka seperti hidup dalam kepura-puraan atau terkadang dibuat-buat tidak sesuai dengan sebenarnya apa yang difikirkan. Apa yang dibicarakan di belakang berbeda dengan apa yang ditunjukkan di depan.

Hal-hal tersebut layaknya sebuah pengaplikasian dari sebuah teori dramaturgi Erving Gorrman yang memandang kehidupan sosial sebagai pertunjukan drama dalam sebuah pentas. Pertunjukan yang terjadi tersebut seolah seperti pemberian kesan yang baik untuk mencapai tujuan tertentu yang mana tujuan tersebut adalah penerimaan yang baik dari penonton sesuai dengan yang diinginkan aktor.

Seperti contoh dalam ospek jurusan atau masa bimbingan yang diberikan senior kepada juniornya. Kondisi ini diibaratkan seperti front stage (pada saat pertunjukan) dimana para junior yang sebenarnya nakal, gampang tersinggung ataupun tidak bisa diam menjadi lebih diam, serius ketika menghadap seniornya. Berbeda ketika tidak ada senior di sekitarnya( back stage), para junior menjadi lebih santai dan menunjukkan sifat aslinya. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan kesan dari para senior bahwa mereka adalah junior yang baik.

Ataupun ketika berada dalam sebuah forum ketika bertemu dengan teman baru, dalam term “breaking karakter” para mahasiswa baru mencoba untuk mempersiapkan diri mereka agar mendapatkan kesan yang ingin ditangkap oleh orang lain dengan mencoba menyesuaikan diri mereka dengan kondisi sekitar walaupun dalam kondisi tersebut mereka tidak menjadi diri sendiri dan tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Akan tetapi, semua itu mereka lakukan untuk mendapatkan tempat di forum tersebut dan mendapatkan kesan bahwa mereka adalah orang-orang yang sejalan dalam pemikiran dan bertindak dengan orang-orang dalam forum tersebut.

Dalam kondisi tertentu lainnya, misal dalam wawancara sebuah program kepanitiaan maupun program lainnya yang terkadang para pesertanya telah mempersiapkan jawaban apa yang harus mereka berikan walaupun bisa jadi jawaban tersebut tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati dan fikiran mereka. Hal tersebut dilakukan agar mereka mendapatkan kesan yang baik oleh pewawancara dan terpilih sesuai keinginan mereka. Namun terkadang dalam hal ini para pewawancara telah mengantisipasi  dengan jawaban yang telah direncanakan oleh peserta sehingga mereka memberikan beberapa tantangan ataupun meminta para peserta untuk memberikan pertanyaan balik kepada pewawancara tanpa perencanaan para peserta.

fenomena dramaturgis dalam bersosialisasi dan adaptasi ini adalah bentuk komunikasi selain komunikasi konvensional untuk mencapai sebuah tujuan. Bila dalam komunikasi konvensional terletak pada pemaksimalan penggunaan panca indera verbal-nonverbal maka dalam dramaturgis adalah bagaimana para mahasiswa baru ini menghayati peran mereka agar mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang mereka inginkan seperti mendapatkan kesan anak baik-baik oleh para senior, seorang yang sejalan dengan lingkungan sekitar (pemikiran dan tindakannya), ataupun seorang yang memenuhi kriteria dalam sebuah program.

Sebenarnya bukan sesuatu yang dapat disalahkan apabila seseorang mencoba menghayati perannya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan ataupun mendapatkan sebuah pengakuan bahwa ia telah menjalankan peran yang dijalankannya. Walau hal tersebut menimbulkan gambaran tidak adanya ketulusan dalam bersikap, tapi pada dasarnya terkadang pengambilan suatu sikap tersebut bersifat situasioanal menyesuaikan dengan kondisi yang ada di sekitar mahasiswa karena pada dasarnya terdapat satu kekuatan “kemasyarakatan” yang menyatakan bahwa tuntutan peran individual menimbulkan ketidakserasian dengan peran kemasyarakatan sehingga perlu adanya sinkronisasi. Akan tetapi akan jauh lebih baik apabila proses sinkronisasi tersebut berjalan tanpa menghilangkan identitas diri dengan tetap menjadi diri sendiri yang tetap bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Karena menjadi diri sendiri itu jauh lebih baik dan memberikan ciri khas identitas diri seorang mahasiswa di kampusnya terutama di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, fakultas dengan sejuta heterogenitasnya.

 

Sumber referensi :

http://pristality.com/2011/11/29/teori-dramaturgi-erving-goffman/

About dedot.eagle
An ordinary girl who keeps millions wonderful things inside

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: